Selasa, 11 Desember 2012

blue sky


Sisa-sisa hujan masih berjatuhan dari langit,membuat aroma tanah bercampur dengan embun pagi. Kaki ku berjalan di halaman sekolah,tempat itu sangat sepi pagi ini. Tak ada orang-orang yang lalulalang seperti biasanya,tak ada guru-guru piket yang mondarmandir mengitari sekolah,tak ada juga dia yang biasa nya duduk dibawah pohon dengan buku dan laptop nya. ya,dia adalah fandy,sosok yang sudah lama kukagumi dan diam-diam kucintai. Aku mendesah saat tak kulihat dia seperti biasanya disana,sedikit perasaan kecewa bercampur dengan perasaan bertanya-tanya. Dimana fandy? Aku tau,pagi ini memang gerimis masih bergantian turun,tetapi biasanya fandy tetap terlihat di depan kelas nya. namun,tak kutemui juga sosok tinggi berkulit putih itu hingga pulang sekolah. setengah berlari kuhampiri niken yang sedang berkutat didepan buku nya,niken mengernyitkan dahi nya saat melihat ku datang tiba-tiba menghampiri nya. “ada apa ta? “ Tanya niken sambil menggeser duduk nya,menyuruhku duduk disampingnya. Aku terdiam sebentar ,mengatur kata-kata apa yang wajar kukeluarkan unuk bertanya tentang fandy. Akhirnya aku menjawab dengan sedikit gugup “ gapapa nik,kamu ada liat fandy gak hari ini?” seperti dugaan ku,niken sedikit terkejut mendengar nama fandy kusebutkan,namun akhirnya dia menjawab “enggak tuh ta,emang kenapa sama fandy? Kamu kenal dia?” aku lebih terkejut mendengar pertanyaan niken. Tak kukira dia akan bertanya seperti itu,aku belum mempersiapkan jawaban untuk itu,dan selama 2 tahun menyukai fandy,tak pernh ada satu orang pun yang tau. Terlebih karna aku tak ingin ada orang lain yang tau. Aku tak ingin dihina atau pun dicaci karna menyukai Alfandy,orang paling famous dipenjuru sekolah. Sementara aku? Mungkin hanya beberapa orang yang tau nama ku. Mungkin hanya beberapa orang yang mengenal Mita Marcella . Jadi,aku cukup tau diri untuk tidak membiarkan rasa cinta ku yang tidak tau diri ini diketahui orang lain. Aku terdiam cukup lama,ketika niken kembali menjawab sendiri pertanyaan nya,aku pun tersadar “oh iya,disekolah ini mana ada yang tidak mengenal sosok tampan itu,haha. Kurasa dia sedang mempersiapkan kepindahannya bulan depan” jawab niken cuek. Berbeda derastis dengen ku yang bagai disambar petir tekejut mendengar pernyataan niken barusan. Apa?pindah? tapi kenapa? Ahh! Semua pikiran menyebalkan itu mendesak keluar dari mulut ku,namun hanya sedikit kata yang berhasil meluncur disana “kamu tau dari mana? Kenapa? “ niken menatap ku sebentar,tersirat rasa kebingungan dikedua bola matanya,namun gadis itu berpaling dan menjawab pertanyaan ku “dia sendiri yang bilang begitu,bulan depan,mungkin setelah ujian nasional. Fandy ingin melanjutkan kuliah nya di luar negri’ lagi-lagi aku tersentak. Tak mengira akan mendengar kabar itu hari ini. Sekolah mulai sepi dan aku tetap membisu. Hingga akhirnya niken berdiri dan berpamitan pulang. Aku mengikuti niken,melangkah melewati jalan dengan pikiran yang berantakan. Kelopak mata ku mulai terasa panas dan seketika gerimis kembali turun dari atas langit yang jatuh disusul butiran air mata dipipiku. Inikah akhir penantian dan rasa cinta ku selama ini? Kubiarkan air hujan membasahi tubuhku,mendinginkan kepalaku dan menghapus air mataku. Ini berita yang belum pernah kuketahui dan hal yang tak pernah kuduga.selama ini aku memang tidak begitu dekat dengannya,tapi paling tidak aku sering melihatnya dihalaman,perpustakaan lapangan basket maupun kolam berenang. Tapi ketika nanti dia pergi,apa aku masih bisa melihatnya? Kurasa tidak. Apa aku harus membiarkannya pergi tanpa dia mengetahui bahwa aku mencintainya? Kurasa ia. Aku tak pernah berani ataupun berniat memberitau nya. rasa ini cukup kunikmati dan kurasakan sendiri. Namun apa aku harus memberitahunya sebelum dia benar-benar pergi? Aku bingung. Aku takut. Fandy tidak mungkin mengenalku,karna aku tak pernah berniat mengenalkan diriku padanya. Jadi,mungkin sangat lucu apabila aku datang tiba-tiba kepadanya dan berkata aku mencintainya. Ahh! Ini gila! Aku bisa dihabisi satu sekolah dan akan dimasukan ke rumah sakit jiwa bila benar-benar melakukan hal konyol itu. Pikiran ku melayang,gerimis kembali mereda,kurasakan sedikit dingin menyusup dalam diam ku. Akhirnya kaki ku melangkah menyusuri trotoar,mata ku menatap kebawah,melihat genangan-genangan air sisa hujan. Rambut ku kubirkan tergerai menutupi sebagian mata ku,hingga tiba-tiba sebuah tubuh kokoh membenturku dari arah yang berlawanan,aku terhuyung kebelakang dan kurasakan sakit mendenyut di puncak kepala ku,tubuh kokoh itu hanya mundur beberapa langkah dan segera menopang tubuhku yang sedetik lagi akan jatuh ke tanah. Mata ku masih berkunang-kunang,belum bisa kulihat jelas tubuh siapa yang membenturku tadi. Hanya sekilas! Hanya sekilas penglihatan ku dan aku melihat Alfandy! Mata ku kembali memfokus kan pandangan ku ke sosok tinggi yang sedang memegangi bahuku ini,yaa dia benar-benar fandy. Perasaan terkejut,berdesir malu dan bersyukur menyatu menjadi satu,membuat kesadaranku melayang sedetik. Detik berikutnya,aku tersadar saat mendengar suara fandy mengalun ditelinga ku “maaf,aku tidak melihat ada kamu didepan tadi” aku terdiam,kulepaskan diriku dari genggamannya. Untuk pertama kali,kutatap matanya dan sedetik kunikmati kesempurnan itu. Aku menjawab dengan suara gugup “iaa,tidak apa-apa. Aku juga tidak melihatmu tadi,maaf” sekilas tercetak sebuah senyum dibibir fandy,aku terpesona melihat nya. “iaa,kamu terlalu kecil jadi maaf aku tidak melihat mu haha. Kamu mita kan? ” kupastikan kali ini telingaku tidak salah mendengar. Fandy menyebut namaku dan tertawa bersama ku. Tunggu! Mungkin ini hanya kebetulan beruntun saja,aku sudah cukup terkejut melihat sosok fandy disini,dan aku tak mau begitu ke geeran mengira fandy mengenalku. Dia memang menyebut namaku,namun mungkin saja dia melihat badge ku. Yaa,itu kemungkinannya. Namun kemungkinan itu patah saat aku ingat hari ini aku tak menggunakan badge nama. Artinya? Ya! Fandy memang mengenal ku. Akku mengangguk,tersenyum tipis. Tanpa berani membuka mulut untuk mengatakan ya atau tidak. Namun kenapa tiba-tiba dia ada disini? Bukannya dia tidak masuk? Tapi akan sangat bodoh bila aku langsung bertanya seperti itu. Kesannya akan seperti aku benar-benar mengenalnya,atau bisa saja dia mengira aku ini stalker yang sering menguntit nya. arh! Itu tak boleh terjadi. Suara fandy menyadarkanku dari lamunan ku  “kamu basah gini ta? Berhujan-hujan ria ya? “  sederatan gigi putih nya ikut terlihat saat tawa nya keluar,aku merasakan muka ku memerah  “tidak juga,hanya ingin berjalan bersama hujan”  entah dari mana aku mendapatkan jawaban gila itu,fandy lalu tersenyum dan mengangguk-angguk “yeaah,I know. Walking in the rain,right? “ aku langsung tertawa mendengar kalimat itu. Seketika tawa kami menyatu di udara,ditengah trotoar dan dibawah gerimis hujan.  “mau ke kafe? Ngopi sebentar,sepertinya hujan nya tambah deras. Dan aku takan membiarkanmu berjalan didalam badai. “  fandy melirik ku,lau aku tertawa terbahak-bahak sambil mengikuti langkahnya. Aku tak menyangka,insiden kecil itu membawa ku mengenal fandy sampai sejauh ini. Didalam coffeshop itu obrolan ringan kami menyatu bersama tawa. Jujur,aku menikmatinya. Namun waktu tak pernah berhenti berputar,hingga tetesan-tesan hujan berganti menjadi pelangi,kami berpisah saling mengucapkan terimakasih dan kemudian pulang. Singkat tapi sangat berkesan. Dari situ,aku sering bertemu dengan fandy,tak sekedar bertemu tapi mengobrol dan banyak yg menanyaan kedekatan kami. Aku tak bisa menjawab apapun selain teman.

Hingga tiba saat nya aku harus melepas fandy pergi,besok siang tepatnya. Namun,sampai saat ini aku belum ada sedikit pun keberanian menyatakan perasaan ku pada nya. air mataku menetes,tangan ku menarik sebuah kertas,hanya sdikit kata-kata yang kutulis disana. Kumasukan kertas itu kedalam amplop kecil berwarna biru,akan keselipkan itu ditasnya besok.

            Siang itu,aku mengantar nya kebandara,untuk terakhir kali aku melihat senyum fandy,aku sedikit menangis. Andai kau tau apa yang kurasakan batin ku ,fandy menatapku,tepat di muka ku  “aku tau apa yang kamu rasakan,karna aku pun merasakanya” tiba-tiba saja aku sudah berada dalam pelukannya,cukup lama pelukan itu berlangsung,hingga jeritan suara dibandara yang menyatakn penumpang untuk takeoff mengurai pelukan kami. Aku melepaskan pelukannya,sekali lagi ditatapnya wajah ku dengan kedua tangan nya,didekapnya pipiku “tetap lah menunggu ku,aku akan kembali untuk mu” kemudian dia megecup keningku,tanpa membiarkan ku menjawab. Tanpa membiarkan ku bersuara. punggung nya menjauh,dan perlahan menghilang dalam kerumunan orang-orang,tak lama kuengar sebuah garuda air terbang diudara. Itu fandy. Dan dia telah pergi. Aku kembali pulang,dalam keadaan yang sama,menanti. Namun kini menanti sesuatu yang pasti. Aku menati dia yang pasti kembali. Kembali untuk ku. Yahh,dibawah langit biru ini aku berdiri. Untuk penantian,harapan dan cinta.