Sisa-sisa hujan masih berjatuhan dari
langit,membuat aroma tanah bercampur dengan embun pagi. Kaki ku berjalan di
halaman sekolah,tempat itu sangat sepi pagi ini. Tak ada orang-orang yang
lalulalang seperti biasanya,tak ada guru-guru piket yang mondarmandir mengitari
sekolah,tak ada juga dia yang biasa nya duduk dibawah pohon dengan buku dan
laptop nya. ya,dia adalah fandy,sosok yang sudah lama kukagumi dan diam-diam
kucintai. Aku mendesah saat tak kulihat dia seperti biasanya disana,sedikit
perasaan kecewa bercampur dengan perasaan bertanya-tanya. Dimana fandy? Aku
tau,pagi ini memang gerimis masih bergantian turun,tetapi biasanya fandy tetap
terlihat di depan kelas nya. namun,tak kutemui juga sosok tinggi berkulit putih
itu hingga pulang sekolah. setengah berlari kuhampiri niken yang sedang
berkutat didepan buku nya,niken mengernyitkan dahi nya saat melihat ku datang
tiba-tiba menghampiri nya. “ada apa ta? “ Tanya niken sambil menggeser duduk
nya,menyuruhku duduk disampingnya. Aku terdiam sebentar ,mengatur kata-kata apa
yang wajar kukeluarkan unuk bertanya tentang fandy. Akhirnya aku menjawab
dengan sedikit gugup “ gapapa nik,kamu ada liat fandy gak hari ini?” seperti
dugaan ku,niken sedikit terkejut mendengar nama fandy kusebutkan,namun akhirnya
dia menjawab “enggak tuh ta,emang kenapa sama fandy? Kamu kenal dia?” aku lebih
terkejut mendengar pertanyaan niken. Tak kukira dia akan bertanya seperti itu,aku
belum mempersiapkan jawaban untuk itu,dan selama 2 tahun menyukai fandy,tak
pernh ada satu orang pun yang tau. Terlebih karna aku tak ingin ada orang lain
yang tau. Aku tak ingin dihina atau pun dicaci karna menyukai Alfandy,orang
paling famous dipenjuru sekolah. Sementara aku? Mungkin hanya beberapa orang
yang tau nama ku. Mungkin hanya beberapa orang yang mengenal Mita Marcella .
Jadi,aku cukup tau diri untuk tidak membiarkan rasa cinta ku yang tidak tau
diri ini diketahui orang lain. Aku terdiam cukup lama,ketika niken kembali
menjawab sendiri pertanyaan nya,aku pun tersadar “oh iya,disekolah ini mana ada
yang tidak mengenal sosok tampan itu,haha. Kurasa dia sedang mempersiapkan
kepindahannya bulan depan” jawab niken cuek. Berbeda derastis dengen ku yang
bagai disambar petir tekejut mendengar pernyataan niken barusan. Apa?pindah?
tapi kenapa? Ahh! Semua pikiran menyebalkan itu mendesak keluar dari mulut
ku,namun hanya sedikit kata yang berhasil meluncur disana “kamu tau dari mana?
Kenapa? “ niken menatap ku sebentar,tersirat rasa kebingungan dikedua bola
matanya,namun gadis itu berpaling dan menjawab pertanyaan ku “dia sendiri yang
bilang begitu,bulan depan,mungkin setelah ujian nasional. Fandy ingin
melanjutkan kuliah nya di luar negri’ lagi-lagi aku tersentak. Tak mengira akan
mendengar kabar itu hari ini. Sekolah mulai sepi dan aku tetap membisu. Hingga
akhirnya niken berdiri dan berpamitan pulang. Aku mengikuti niken,melangkah
melewati jalan dengan pikiran yang berantakan. Kelopak mata ku mulai terasa
panas dan seketika gerimis kembali turun dari atas langit yang jatuh disusul
butiran air mata dipipiku. Inikah akhir penantian dan rasa cinta ku selama ini?
Kubiarkan air hujan membasahi tubuhku,mendinginkan kepalaku dan menghapus air
mataku. Ini berita yang belum pernah kuketahui dan hal yang tak pernah
kuduga.selama ini aku memang tidak begitu dekat dengannya,tapi paling tidak aku
sering melihatnya dihalaman,perpustakaan lapangan basket maupun kolam berenang.
Tapi ketika nanti dia pergi,apa aku masih bisa melihatnya? Kurasa tidak. Apa
aku harus membiarkannya pergi tanpa dia mengetahui bahwa aku mencintainya?
Kurasa ia. Aku tak pernah berani ataupun berniat memberitau nya. rasa ini cukup
kunikmati dan kurasakan sendiri. Namun apa aku harus memberitahunya sebelum dia
benar-benar pergi? Aku bingung. Aku takut. Fandy tidak mungkin mengenalku,karna
aku tak pernah berniat mengenalkan diriku padanya. Jadi,mungkin sangat lucu
apabila aku datang tiba-tiba kepadanya dan berkata aku mencintainya. Ahh! Ini
gila! Aku bisa dihabisi satu sekolah dan akan dimasukan ke rumah sakit jiwa bila
benar-benar melakukan hal konyol itu. Pikiran ku melayang,gerimis kembali
mereda,kurasakan sedikit dingin menyusup dalam diam ku. Akhirnya kaki ku
melangkah menyusuri trotoar,mata ku menatap kebawah,melihat genangan-genangan
air sisa hujan. Rambut ku kubirkan tergerai menutupi sebagian mata ku,hingga
tiba-tiba sebuah tubuh kokoh membenturku dari arah yang berlawanan,aku
terhuyung kebelakang dan kurasakan sakit mendenyut di puncak kepala ku,tubuh
kokoh itu hanya mundur beberapa langkah dan segera menopang tubuhku yang
sedetik lagi akan jatuh ke tanah. Mata ku masih berkunang-kunang,belum bisa
kulihat jelas tubuh siapa yang membenturku tadi. Hanya sekilas! Hanya sekilas
penglihatan ku dan aku melihat Alfandy! Mata ku kembali memfokus kan pandangan
ku ke sosok tinggi yang sedang memegangi bahuku ini,yaa dia benar-benar fandy.
Perasaan terkejut,berdesir malu dan bersyukur menyatu menjadi satu,membuat
kesadaranku melayang sedetik. Detik berikutnya,aku tersadar saat mendengar
suara fandy mengalun ditelinga ku “maaf,aku tidak melihat ada kamu didepan
tadi” aku terdiam,kulepaskan diriku dari genggamannya. Untuk pertama
kali,kutatap matanya dan sedetik kunikmati kesempurnan itu. Aku menjawab dengan
suara gugup “iaa,tidak apa-apa. Aku juga tidak melihatmu tadi,maaf” sekilas
tercetak sebuah senyum dibibir fandy,aku terpesona melihat nya. “iaa,kamu
terlalu kecil jadi maaf aku tidak melihat mu haha. Kamu mita kan? ” kupastikan
kali ini telingaku tidak salah mendengar. Fandy menyebut namaku dan tertawa
bersama ku. Tunggu! Mungkin ini hanya kebetulan beruntun saja,aku sudah cukup
terkejut melihat sosok fandy disini,dan aku tak mau begitu ke geeran mengira
fandy mengenalku. Dia memang menyebut namaku,namun mungkin saja dia melihat
badge ku. Yaa,itu kemungkinannya. Namun kemungkinan itu patah saat aku ingat
hari ini aku tak menggunakan badge nama. Artinya? Ya! Fandy memang mengenal ku.
Akku mengangguk,tersenyum tipis. Tanpa berani membuka mulut untuk mengatakan ya
atau tidak. Namun kenapa tiba-tiba dia ada disini? Bukannya dia tidak masuk?
Tapi akan sangat bodoh bila aku langsung bertanya seperti itu. Kesannya akan
seperti aku benar-benar mengenalnya,atau bisa saja dia mengira aku ini stalker
yang sering menguntit nya. arh! Itu tak boleh terjadi. Suara fandy
menyadarkanku dari lamunan ku “kamu
basah gini ta? Berhujan-hujan ria ya? “
sederatan gigi putih nya ikut terlihat saat tawa nya keluar,aku
merasakan muka ku memerah “tidak
juga,hanya ingin berjalan bersama hujan”
entah dari mana aku mendapatkan jawaban gila itu,fandy lalu tersenyum
dan mengangguk-angguk “yeaah,I know. Walking in the rain,right? “ aku langsung
tertawa mendengar kalimat itu. Seketika tawa kami menyatu di udara,ditengah
trotoar dan dibawah gerimis hujan. “mau
ke kafe? Ngopi sebentar,sepertinya hujan nya tambah deras. Dan aku takan
membiarkanmu berjalan didalam badai. “
fandy melirik ku,lau aku tertawa terbahak-bahak sambil mengikuti
langkahnya. Aku tak menyangka,insiden kecil itu membawa ku mengenal fandy
sampai sejauh ini. Didalam coffeshop itu obrolan ringan kami menyatu bersama
tawa. Jujur,aku menikmatinya. Namun waktu tak pernah berhenti berputar,hingga
tetesan-tesan hujan berganti menjadi pelangi,kami berpisah saling mengucapkan
terimakasih dan kemudian pulang. Singkat tapi sangat berkesan. Dari situ,aku sering
bertemu dengan fandy,tak sekedar bertemu tapi mengobrol dan banyak yg menanyaan
kedekatan kami. Aku tak bisa menjawab apapun selain teman.
Hingga
tiba saat nya aku harus melepas fandy pergi,besok siang tepatnya. Namun,sampai
saat ini aku belum ada sedikit pun keberanian menyatakan perasaan ku pada nya.
air mataku menetes,tangan ku menarik sebuah kertas,hanya sdikit kata-kata yang
kutulis disana. Kumasukan kertas itu kedalam amplop kecil berwarna biru,akan
keselipkan itu ditasnya besok.
Siang itu,aku mengantar nya
kebandara,untuk terakhir kali aku melihat senyum fandy,aku sedikit menangis.
Andai kau tau apa yang kurasakan batin ku ,fandy menatapku,tepat di muka
ku “aku tau apa yang kamu rasakan,karna
aku pun merasakanya” tiba-tiba saja aku sudah berada dalam pelukannya,cukup
lama pelukan itu berlangsung,hingga jeritan suara dibandara yang menyatakn
penumpang untuk takeoff mengurai pelukan kami. Aku melepaskan pelukannya,sekali
lagi ditatapnya wajah ku dengan kedua tangan nya,didekapnya pipiku “tetap lah
menunggu ku,aku akan kembali untuk mu” kemudian dia megecup keningku,tanpa
membiarkan ku menjawab. Tanpa membiarkan ku bersuara. punggung nya menjauh,dan
perlahan menghilang dalam kerumunan orang-orang,tak lama kuengar sebuah garuda
air terbang diudara. Itu fandy. Dan dia telah pergi. Aku kembali pulang,dalam
keadaan yang sama,menanti. Namun kini menanti sesuatu yang pasti. Aku menati
dia yang pasti kembali. Kembali untuk ku. Yahh,dibawah langit biru ini aku
berdiri. Untuk penantian,harapan dan cinta.